Sabtu, 23/09/2017

PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.joglosemar.co | email : [email protected]

Puluhan Tahun Mengabdi, demi Melestarikan Tradisi


Jumat, 10/01/2014 19:46 WIB -

Setiap gelaran Sekaten dimulai, saat itu pula para pengrawit menjalankan tugas mereka menabuh gamelan selama tujuh hari berturut-turut. Kebanyakan, mereka sudah mengabdi di Keraton Kasunanan Surakarta sejak puluhan tahun lalu atau saat masih muda.
“Saya masuk ke keraton tahun 1973 silam dan langsung jadi abdi dalem pengrawit. Bahkan tak menyangka bisa menjadi penabuh gamelan pusaka keraton peninggalan para leluhur,” ujar Mas Ngabehi Praptodiprojo (70) kepada Joglosemar di sela-sela rehatnya menabuh gamelan Sekaten, Kamis (9/1).
Diceritakan, ia menyukai gamelan dari simbahnya yang merupakan juga penabuh gamelan.
Sejak kecil ia mengaku sering diajak menabuh, sehingga lama-kelamaan tertarik menjadi pengrawit juga. “Jadi saya suka gamelan itu secara turun-temurun dari simbah. Akhirnya saya masuk keraton untuk mengabdi untuk melestarikan kebudayaan lewat gamelan,” ungkap pria kelahiran 1943 ini.
Diakuinya, pertama kali menabuh gamelan Kyai Guntur Madu maupun Nyai Guntur Sari, perasaannya deg-degan dan berkeringat. Selain takut salah membunyikan, karena gamelan ini juga merupakan pusaka keraton yang disakralkan dan tidak sembarangan ditabuh. Bahkan, saat menabuh ia mengaku pernah diweruhi makhluk halus dan terdengar suara-suara aneh. Meski sempat kaget dan takut, lama-lama ia terbiasa. “Percaya tidak percaya itu terserah penilaian masyarakat,” sambung dia.
Mengabdi itu, lanjut dia, harus punya niat dan ikhlas. Bahkan dengan upah yang minim pun harus tetap dilakukan. Sekali datang berlatih, ia hanya mendapatkan upah Rp 2.000. Baginya, menjadi pengrawit bukan merupakan mata pencaharian, namun demi melestarikan budaya.
“Jadi harus ikhlas, memang kalau ada event dengan menabuh gamelan seperti Sekaten ini ada tambahan,” katanya.
Hal senada disampaikan KRA Saptodiningrat yang juga mengaku pernah melihat makhluk gaib saat menabuh. “Saya pernah mengalami kejadian itu tapi maaf saya tidak mau menceritakan. Kalau abdi dalem yang lain saat menabuh gamelan di sampingnya ada seseorang,” papar dia.
Ia mengaku, saat ini menerima upah Rp 2.000 sekali datang berlatih. Bahkan dulu, hanya Rp 1.000. ”Saya masuk keraton tahun 1970 tapi baru jadi abdi dalem pengrawit tahun 1990.  Akan terus mengabdi di keraton walaupun upahnya kecil, semoga saja ini menjadi berkah,” imbuh dia.