Sabtu, 16/12/2017

PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.joglosemar.co | email : [email protected]

Harta Miliaran Rina Disita


Jumat, 10/01/2014 19:53 WIB -

KARANGANYAR—Aset milik mantan Bupati Karanganyar, Rina Iriani, tersangka korupsi dan pencucian uang proyek pembangunan Perumahan Griya Lawu Asri (GLA) yang merugikan negara sekitar Rp 11 miliar, disita oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng.
Penyitaan dilakukan oleh tim penyidik Kejati dengan mendatangi kediaman Rina di Perumahan Jaten Permai Indah (JPI) No 1-2 Jalan Angsana, Dusun Getas, Desa Jaten, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Kamis (9/1). Sejumlah aset Rina yang disita di antaranya 14 bidang tanah, dua rumah yang berada di Perumahan JPI, emas dan berlian sebanyak 33 item yang berada di dalam peti, uang tunai Rp 126 juta, dua mobil yakni Honda CR-V AD 8000 RZ dan sedan Camry AD 2 RI. Jika ditotal, harta yang disita itu mencapai puluhan miliar.
Kedua rumah yang berhadapan di Perumahan JPI yang disita dan dipasangi papan penyitaan oleh Kejati itu adalah rumah yang ditempati Rina sekarang bersama keluarganya. Tim penyidik yang dipimpin oleh Kasie Penyidikan Kejati Jateng, Sugeng Riyanta datang ke rumah Rina pukul 09.00 WIB dan langsung melakukan pendataan aset. Kemudian baru sekitar pukul 15.00 WIB dilakukan pemasangan papan tanda penyitaan aset yang dimiliki Rina tersebut.
Sugeng mengatakan penyitaan aset milik Rina merupakan tindak lanjut dari hasil pemeriksaan sebelumnya. Menurutnya, penyitaan itu sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. “Kami dibekali surat perintah penyidikan, penyitaan, penggeledahan, izin penetapan penggeledahan, izin penyitaan, serta surat tugas. Saya siap mempertanggungjawabkannya,” tegasnya.
Ia menjelaskan, penyitaan dilakukan untuk mengamankan aset yang dimiliki tersangka. Sehingga jika nanti dalam dakwaannya di pengadilan terbukti melakukan tindak korupsi dan pencucian uang, harta tersebut bisa sebagai pengganti. “Nanti kalau Bu Rina dalam persidangan terbukti melakukan korupsi dan pencucian uang, apabila harus mengembalikan uang sudah ada jaminannya, yaitu aset-aset yang disita itu. Jadi kami juga tidak khawatir akan tidak bisa bayar,” jelas Sugeng.
Saking banyaknya harta yang disita, Sugeng pun tidak bisa menyebutkan total nilainya. Namun, ia memperkirakan jumlahnya mencapai puluhan miliar rupiah. “Kalau nilai pastinya belum kami hitung. Yang jelas mencapai puluhan miliaran. Perhiasan saja sekitar dua kotak besar. Ada satu berlian ukuran kepalan tangan yang nilainya ratusan juta rupiah. Kami juga minta bantuan dari masyarakat jika mengetahui harta Rina yang lain bisa melapor ke kami. Nanti akan kami tindak lanjuti dengan penyitaan,” jelasnya.
Sementara itu, Rina kembali menampik tudingan berbagai pihak yang mengatakan jika dirinya terlibat dalam kasus korupsi GLA. Ia juga menegaskan jika aset-aset yang disita Kejati adalah miliknya sebelum dirinya menjadi bupati Karanganyar. “Saya tidak dikasih tahu jika tim penyidik mau datang ke rumah. Saya kecewa berat, semestinya ada kulo nuwun, tapi cara-cara yang dipakai kok seperti ini. Kejaksaan harusnya memberi teladan,” ungkapnya.
Salah satu kuasa hukum Rina, Slamet Yuono juga merasa kecewa atas penggeledahan dan berujung penyitaan yang dilakukan Kejati. Ia menilai Kejati tidak menganggap keberadaan dirinya sebagai seorang lawyer. “Saat penggeledahan semestinya menunggu lawyer dulu. Beda dengan KPK yang selalu menunggu lawyer (tersangka),” katanya didampingi pengacara Rina lainnya, M Taufiq dan M Yagari Bhastara.
Terkait penyitaan sejumlah aset milik kliennya, ia menganggap Kejati telah melakukan sesuatu di luar kewenangannya. Jika mengacu pada perintah penggeledahan, harusnya hanya 16 item yang disita, namun nyatanya mencapai 75 item. Termasuk aset sejak tahun 1990, 1993, dan 1995 yang tidak ada kaitannya dengan kasus GLA. “Dia mantan bupati, jangan dipermalukan seperti ini. Kejagung harus turun tangan,” tegas Slamet. Ahmad Rodif Hafidz