Sabtu, 23/09/2017

PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.joglosemar.co | email : [email protected]

Diberitakan 5.000 Kali/Bulan


Jumat, 10/01/2014 19:51 WIB -

Diakui atau tidak, Jokowi masih menjadi tokoh yang paling populer di jajaran tokoh yang berpotensi maju ke bursa Capres. Serangkaian survei menunjukkan bahwa Jokowi merupakan calon dengan elektabilitas paling tinggi.
Selama ini, Jokowi pun sebenarnya bukan cuma menarik simpati khalayak ramai. Kenyataannya, medialah yang lebih “tergila-gila” akan sosok eks Walikota Solo itu.
Indonesia Indicator menguji mengapa elektabilitas Joko Widodo begitu tinggi dan tak tertandingi oleh Capres lain. Hasilnya, ternyata pemberitaan Jokowi menjadi faktor signifikan yang menentukan.
Indonesia Indicator meneliti 365 media online nasional dan daerah untuk mengukur eksposure Jokowi di media. Pengumpulan data dilakukan selama 1 Januari-31 Desember 2013 dengan metode pelantik lunak carwler.
“Dalam setahun, jumlah pemberitaan Jokowi mencapai 60.642 berita atau rata-rata 5.000 setiap bulannya,” kata Direktur Komunikasi Indonesia Indicator Rustika Herlambang di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakpus, Kamis (9/1).
Menurutnya, jumlah ekspose berita terhadap Jokowi tersebut enam kali lipat lebih besar dibandingkan Aburizal Bakrie dan tujuh kali lipat dibandingkan pemberitaan Prabowo. “Kandidat Capres yang memiliki ekspose terdekat Jokowi ditempati oleh Megawati. Meski dalam ekspose Megawati terdapat 50 persen pemberitaan menyangkut Jokowi,” ujarnya.
Tingginya pemberitaan Jokowi selama tahun 2013 itu hanya bisa ditandingi oleh pemberitaan Presiden SBY yakni pada bulan Januari dan September 2013.

Golput Turun
Sementara itu, tingginya elektabilitas Joko Widodo di seluruh lembaga survei diyakini akan sangat menentukan dinamika Pemilu 2014. Salah satu yang berpengaruh adalah tingkat partisipasi pemilih.
“Kalau sudah kelihatan sebelum Pileg nggak akan dicalonkan, tingkat partisipasi pemilih akan rendah. Kalau (Jokowi) dicalonkan, maka signifikan tingkatkan partisipasi pemilihnya,” kata pengamat politik yang juga pendiri Cirus Surveyor Group, Andrinof Chanigo ,di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (9/1).
Menurutnya, fenomena Jokowi yang unggul di seluruh lembaga survei sejak tahun 2013 adalah anomali demokrasi yang tak pernah terjadi dalam sejarah proses Pemilu bahwa ada tokoh tak tersaingi merata elektabilitasnya dalam survei. “Orang ingin pemimpin seperti Jokowi, ya hanya Jokowi,” ujarnya. Detik | Niko Fediyanto