Sabtu, 16/12/2017

PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.joglosemar.co | email : [email protected]

Aduh Istriku Tak Bisa Masak


Minggu, 23/09/2012 06:00 WIB - Tri Wulan Rahayu

Pekerjaan domestik dalam rumah tangga seperti halnya memasak adalah pekerjaan yang paling banyak dilakukan oleh sang istri. Namun begitu, memasak tidak bisa dianggap sepele, sebab olahan masakan dari hasil memasak itu dapat menjadi faktor pemicu masalah dalam rumah tangga atau sebaliknya justru bisa mempermanis hubungan pasangan suami istri dan anggota keluarga yang lain. Nah, lalu ketika si istri tidak bisa memasak, sebenarnya akan berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga nggak sih?.
Seorang kepala rumah tangga Zaki Faddad berbagi pengalaman tersebut. Pria yang tinggal di daerah Turisari Mangkubumen itu menuturkan sang istri tidak bisa memasak, hanya mampu menanak nasi dan menggoreng telur. Namun hal itu tidak menjadi masalah baginya. “Menjadi istri itu tidak harus pandai dan tidak harus tiap hari memasak. Yang terpenting adalah dapat membuat apa yang bisa dimakan, karena kalau jajan terus bisa tekor. Maka kalau istri saya tidak bisa memasak, ya saya yang harus bisa masak,” ungkap Zaki yang juga pengelola web.
Memasak, imbuh Zaki bukanlah tugas domestik yang wajib dilakukan sang istri. Tugas domestik perempuan adalah mengasuh anak. “Jadi bukan masalah antara bisa atau tidak bisa memasak, karena masing-masing istri memang mempunyai kelebihan yang berbeda-beda dan itu relatif menurut saya. Yang terpenting adalah mau belajar,” terangnya.
Menu Masakan Spesial
Kelemahan istri tidak bisa memasak biasanya banyak disebabkan kebiasaan yang jarang dilakukan sang istri ketika dirinya remaja hingga pra pernikahan. Maka sampai bersuami pun aktivitas memasak menjadi canggung dilakukan. Seperti yang dikatakan Psikolog Keluarga Universitas Setia Budi (USB), Rosita Yuniarti, S.Psi, si istri yang tidak bisa memasak dampak yang paling signifikan terlihat adalah fakta ekonomi di mana akan terjadi pemborosan. “Maka perlu dikomunikasikan dengan baik jangan sampai menimbulkan konflik. Istri perlu terbuka kalau dirinya tidak bisa memasak, sehingga perihal memasak dapat dibicarakan,” ujar Rosi.
Padahal akan terasa membahagiakan apabila anak-anak merindukan masakan ibunya, merasakan ada sense atau hasrat yang berbeda dari masakan sang ibu. “Makanya sang istri perlu belajar, tidak harus pandai dan selalu menyajikan masakan, namun ada menu masakan yang khas dan spesial yang bisa dibuat. Dari situ anak-anak atau suami menjadi selalu ingat, bahkan membanggakan di depan teman-temannya,” terangnya beberapa waktu yang lalu.
Selain itu, ada sensasi nikmat di mulut ketika memakan menu yang spesial buatan si ibu, misalnya ketika hanya jago memasak cap jay, soto, nasi goreng atau balado telur. Itulah yang membuat kangen suami dan anak-anak dan ingin segera kembali di rumah. “Ya itu tadi, tidak wajib pintar tapi belajar. Untuk awal-awal suami pun harus pengertian. Misalnya saja di awal masakan, ternyata keasinan atau kurang asin, maka tidak langsung dimarahi, tetap di makan dan diberitahu dengan cara yang baik,” imbuhnya.
Suami perlu memberi pujian atau penghargaan bila memang masakan sang istri enak. Karena sejatinya masakan sang istri bukan hanya sekedar mencampurkan bahan dengan bumbu, melainkan ada curahan rasa kasih sayang di dalamnya. “Jangan sampai suami langsung menuntut harus seperti ini dan itu, sedangkan sang istri belum bisa. Maka berikan penghargaan terhadap jerih payah istri ketika dirinya belajar memasak,” imbaunya.
Dalam mengerjakan pekerjaan dapur, bila ada waktu, suami bisa ikut menemani, membantu dan memberikan support sehingga istri tidak merasa dirinya direndahkan menjadi ibu rumah tangga saja. “Kalau sang istri wanita karir, bisa menjadi stress lantaran tuntutan suami dan ketika memasak tidak ada dukungan. Maka perlu adaptasi dengan waktu yang cukup,” terangnya.
Manfaatkan Media
Untuk belajar membuat hidangan, sang istri bisa memanfaatkan teknologi yang ada. Misalnya googling atau via internet dan mencari resep masakan yang akan dibuat. “Kalau memang gaptek, atau memang tidak bisa internet maka dapat belajar dari mertua, masakan apa yang paling disukai suami. Karena lidah suami itu biasanya tidak jauh dari orang tuanya, dengan kolaborasi dengan mertua juga dapat mempererat hubungan istri dengan sang mertua,” jelasnya.

 Tri Wulan Rahayu